Asal Mula Dinasti Bani Umayyah.
Nama Dinasti
Umayyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abdi Syams bin Abdu Manaf, salah satu
pemimpin dari kabilah Quraisy. Yang
memiliki cukup unsur untuk berkuasa di zaman Jahiliyah yakni keluarga bangsawan, cukup kekayaan dan mempunyai
sepuluh orang putra. Orang yang memiliki ketiga
unsur tersebut di zaman jahiliyah berarti telah mempunyai jaminan untuk
memperoleh kehormatan dan kekuasaan. Umayyah selalu bersaing
dengan Pamannya yaitu Hasyim bin Abdu Manaf dalam
memperebutkan kekuasaan dan kedudukan.[1][1] Sesudah
datang Agama Islam persaingan yang dulunya
merebut kehormatan menjadi permusuhan yang lebih nyata. Bani Umayah dengan tegas menentang
Rosululloh, sebaliknya Bani Hasim
menjadi penyokong dan pelindung Rosululloh, baik yang sudah masuk Islam atau
yang belum. Bani Umayyah adalah
orang-orang yang terakhir masuk agama Islam pada masa Rosululloh dan salah satu
musuh yang paling keras sebelum mereka masuk Islam. Setelah itu sekumpulan Bani Umayyah masuk islam.
Jadi, nama Dinasti Bani Umayyah diambil
dari Umayyah bin Abd Al- Syam, kakek Abu Sofyan. Sedangkan Muawiyah bin Abi Sofyan berasal
dari keturunan Bani Umayyah , yang berasal dari suku Quraisy.[2][2]
Proses terbentuknya kekhalifahan
Bani Umayyah dimulai sejak khalifah Utsman
bin Affan tewas terbunuh oleh tikaman pedang Humran bin Sudan pada tahun 35
H/656 M, sa’at khalifah Utsman bin Affan
membaca Al-qur’an. Pada saat itu khalifah Utsman bin Affan dianggap
terlalu Nepotisme (mementingkan kaum kerabatnya sendiri)
dalam menunjuk para pembantu atau gubernur di wilayah kekuasaan Islam.
Awal kedaulatan bagi Dinasti Bani Umayyah adalah sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan, lalu dipimpin kholifah Ali bin Abi Thalib, dan Hasan bin Ali. Barulah
Dinasti Bani Umayyah muncul, dengan dipimpin oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan yang dulunya gubenur Syam dan tampil
sebagai pemimpin Islam yang kuat.
Sebelum Dinasti
Bani Umayyah muncul sebagai khalifah. Masyarakat Madinah khususnya para shahabat
besar seperti Thalhah bin Ubaidillah
dan Zubair bin Awwam mendatangi Ali bin Abi
Thalib untuk memintanya menjadi khalifah pengganti Utsman bin Affan. Permintaan
itu di pertimbangkan dengan sungguh-sungguh dan pada
akhirnya Ali bin Abi Thalib mau menerima tawaran tersebut. Pernyataan bersedia
tersebut membuat para tokoh besar tadi yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam merasa tenang, dan
kemudian mereka dan para shahabat lainnya serta pendukung Ali bin Abi Thalib
melakukan sumpah setia (bai’at)
kepada Ali pada tahun 656 M/18
Dzulhijah 35 H. Pembai’atan ini mengindikasikan pengakuan umat terhadap
kepemimpinannya. Dengan kata lain, Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang
paling layak diangkat menjadi khalifah keempat menggantikan khalifah Utsman bin
Affan.
Pengangkatan Ali bin Abi Thalib
sebagai khalifah keempat oleh
masyarakat Madinah dan
sekelompok masyarakat pendukung dari Kuffah, ternyata
ditentang oleh sekelompok orang yang merasa dirugikan. Misalnya Muwiyah bin Abi Sufyan gubernur Damaskus dan Syiria, serta Marwan bin Hakam yang ketika pada masa Khalifah Utsman bin Affan, menjabat sebagai sekretaris khalifah.
Dalam suatu catatan yang di peroleh
dari khalifah Ali adalah bahwa Marwan pergi ke Syam untuk bertemu dengan Muawiyah
dengan membawa barang bukti berupa jubah khalifah Utsman yang berlumur darah.
Penolakan Muawiyah bin Abi Sufyan dan sekutunya terhadap kekhalifahan Ali bin Abi
Thalib menimbulkan konflik yang berkepanjangan antara kedua belah pihak yang
berujung pada pertempuran di Shiffin
dan dikenal dengan perang Siffin, Pertempuran ini terjadi di antara dua kubu yaitu, Muawiyah bin Abu Sufyan (sepupu dari
Usman bin Affan) dengan Ali bin Abi
Talib di tebing Sungai Furat yang kini
terletak di Syria (Syam) pada 1 Shafar tahun 37 H/657 M. Muawiyah tidak menginginkan adanya pengangkatan kepemimpinan Umat Islam
yang baru.
Beberapa saat setelah wafatnya khalifah Utsman bin Affan,
masyarakat muslim baik yang ada di Madinah
, Kuffah, Bashrah dan Mesir telah mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pengganti Utsman. Kenyataan
ini membuat Muawiyah tidak punya
pilihan lain, kecuali harus mengikuti khalifah Ali bin Abi Thalib dan tunduk atas segala perintahnya. Tetapi Muawiyah menolak
kepemimpinan tersebut karena ada berita bahwa Ali akan mengeluarkan kebijakan
baru untuk mengganti seluruh gubernur yang diangkat Utsman bin Affan pada waktu itu.
Muawiyah mengancam agar tidak mengakui (bai’at) kekuasaan Ali
bin Abi Thalib sebelum Ali berhasil mengungkapkan tragedi terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, dan menyerahkan orang
yang dicurigai terlibat pembunuhan tersebut untuk dihukum. Namun Khalifah Ali bin Abi Thalib berjanji
akan menyelesaikan masalah pembunuhan itu setelah ia berhasil menyelesaikan
situasi dan kondisi di dalam Negeri. Kasus
itu tidak melibatkan sebagian kecil individu, juga melibatkan pihak dari
beberapa daerahnya seperti Kuffah, Bashra dan Mesir.
Permohonan atas penyelesaian kasus
terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan
ternyata juga datang dari istri Nabi Muhammad saw, yaitu Aisyah binti Abu Bakar. Siti Aisyah mendapat penjelasan tentang
situasi dan keadaan politik di ibukota Madinah, dari shahabat Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair ketika
bertemu di Bashrah. Para shahabat
menjadikan Siti Aisyah untuk bersikap sama, untuk penyelesaian terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, dengan alasan
situasi dan kondisi tidak memungkinkan di Madinah. Disamping itu, khalifah Ali bin Abi Thalib tidak
menginginkan konflik yang lebih luas dan lebar lagi.
Akibat dari penanganan kasus
terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, munculah isu bahwa khalifah Ali bin Abi
Thalib sengaja mengulur waktu karena punya kepentingan politis untuk mengeruk
keuntungan dari krisis tersebut. Bahkan Muawiyah
menuduh Ali bin Abi Thalib berada di
balik kasus pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan.
Tuduhan ini tentu saja tuduhan yang
tidak benar, karena justru pada saat itu Sayidina Ali dan kedua putranya yaitu Hasan dan Husein serta para shahabat yang lain
berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga dan melindungi khalifah Utsman bin Affan dari serbuan massa
yang mendatangi kediaman khalifah Utsman bin Affan.
Sejarah mencatat justru keadaan yang
patut di curigai adalah peran dari kalangan pembesar istana yang berasal dari
keluarga Utsman dan Bani Umayyah. Pada peristiwa ini tidak terjadi seorangpun
di antara mereka berada di dekat khalifah Utsman
bin Affan dan mencoba memberikan bantuan menyelesaikan masalah yang
dihadapi khalifah.
Dalam menjalankan roda
pemerintahannya, kalifah Utsman bin Affan
banyak menunjuk para gubernur di daerah yang berasal dari kaum kerabatnya
sendiri. Salah satu gubernur yang ia tunjuk adalah gubernur Mesir, Abdullah Sa’ad bin Abi Sarah. Gubernur
Mesir ini di anggap tidak adil dan berlaku sewenang-wenang terhadap masyarakat
Mesir. Ketidak puasan ini menyebabkan kemarahan di kalangan masyarakat sehingga
mereka menuntut agar Gubernur Abdullah bin Sa’ad segera di ganti. Kemarahan
para pemberontak ini semakin bertambah setelah tertangkapnya seorang utusan
istana yang membawa surat resmi dari khalifah yang berisi perintah kepada
Abdullah bin Sa’ad sebagai gubernur Mesir untuk membunuh Muhammad bin Abu
Bakar. Atas permintaan masyarakat Mesir, Muhammad bin Abu Bakar diangkat untuk
menggantikan posisi gubernur Abdulah bin Sa’ad yang juga sepupu dari khalifah Utsman bin Affan.
Tertangkapnya utusan pembawa surat
resmi ini menyebabkan mereka menuduh khalifah Utsman bin Affan melakukan kebijakan yang
mengancam nyawa para shahabat. Umat Islam Mesir melakukan protes dan
demonstrasi secara massal menuju rumah khalifah Utsman bin Affan. Mereka juga tidak menyenangi atas sistem
pemerintahan yang dianggap sangat sarat
dengan kolusi dan nepotisme. Keadaan ini menyebabkan mereka bertambah marah dan
segera menuntut khalifah Utsman bin Affan untuk segera melepaskan jabatan.
Persoalan-persoalan yang dihadapi
oleh khalifah Utsman bin Affan semakin rumit dan kompleks, sehingga tidak mudah
untuk di selesaikan secepatnya. Massa yang mengamuk saat itu tidak dapat
menahan emosi dan langsung menyerbu masuk kedalam rumah khalifah, sehingga
khalifah Utsman bin Affan terbunuh
dengan sangat mengenaskan.
Ada beberapa gubernur yang diganti
semasa kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Thalib, antara
lain Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai
gubernur Syam yang diganti dengan Sahal
bin Hunaif. Pengiriman gubernur baru ini di tolak Muawiyah bin Abi Sufyan serta masyarakat Syam. Pendapat khalifah
Ali bin Abi Thalib tentang pergantian dan pemecatan gubernur ini berdasarkan
pengamatan bahwa segala kerusuhan dan kekacauan yang terjadi selama ini di
sebabkan karena ulah Muawiyah dan gubernur-gubernur lainnya yang bertindak
sewenang-wenang dalam menjalankan pemerintahannya. Begitu juga pada saat
peristiwa terbunuhnya khalifah Utsman bin
Affan disebabkan karena kelalaian mereka.
Latar
Belakang
Berakhirnya kekuasaan khalifah Ali
bin Abi Thalib mengakibatkan lahirnya kekuasan yang berpola dinasti atau
kerajaan. Bentuk pemerintahan dinasti atau kerajaan yang cenderung
bersifat kekuasaan foedal dan turun temurun, hanya untuk mempertahankan kekuasaan,
adanya unsur otoriter, kekuasaan mutlak, kekerasan, diplomasi yang dibumbui
dengan tipu daya, dan hilangnya keteladanan Nabi untuk musyawarah dalam
menentukan pemimpin merupakan gambaran umum tentang kekuasaan dinasti sesudah
khulafaur rasyidin. Dinasti Umayyah merupakan kerajaan Islam pertama yang
didirikan oleh Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan. Perintisan dinasti ini dilakukannya
dengan cara menolak pembai’atan terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib, kemudian
ia memilih berperang dan melakukan perdamaian dengan pihak Ali dengan strategi
politik yang sangat menguntungkan baginya. Jatuhnya Ali dan naiknya Mu’awiyah
juga disebabkan keberhasilan pihak khawarij (kelompok yang menentang dari Ali)
membunuh khalifah Ali, meskipun kemudian tampak kekuasaan dipegang oleh putranya
Hasan, namun tanpa dukungan yang kuat dan kondisi politik yang kacau akhirnya
kepemimpinannya pun hanya bertahan sampai beberapa bulan. Pada akhirnya Hasan
menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah, namun dengan perjanjian bahwa
pemilihan kepemimpinan sesudahnya adalah diserahkan kepada ummat Islam.
Perjanjian tersebut dibuat pada tahun 661 M / 41 H dan dikenal dengan nama
jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan ummat Islam menjadi satu
kepemimpinan, namun secara tidak langsung mengubah pola pemerintahan menjadi
kerajaan. Meskipun begitu, munculnya Dinasti Umayyah memberikan babak baru
dalam kemajuan peradaban Islam, hal itu dibuktikan dengan
sumbangan-sumbangannya dalam perluasan wilayah, kemajuan pendidikan, kebudayaan
dan lain sebagainya.
B. Tujuan Makalah
Adapun tujuan kami menyusun makalah
ini adalah:
1. Agar bisa mengetahui bagaimana sejarah berdirinya Dinasti
Umayyah.
2. Agar bisa mengetahui bagaimana sistem pemerintahan Dinasti
Umayyah.
3. Untuk mengetahui apa saja kemajuan yang dicapai pada masa
Dinasti Umayyah.
4. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kemunduran
Dinasti Umayyah.
BAB II
DINASTI UMAYYAH (662- 750)
A. Pengertian Sejarah Berdirinya
Dinasti Umayyah
Sejarah berdirinya Daulah Umayyah
berasal dari nama Umayyah Ibn ‘Abdi Syams Ibn ‘Abdi Manaf, yaitu salah seorang
dari pemimpin kabilah Quraisy pada zaman jahiliyah. Bani Umayyah baru
masuk agama Islam setelah mereka tidak menemukan jalan lain selain memasukinya,
yaitu ketika Nabi Muhammad berserta beribu-ribu pengikutnya yang benar-benar
percaya terhadap kerasulan dan kepemimpinan yang menyerbu masuk ke dalam kota
Makkah. Memasuki tahun ke 40 H/660 M, banyak sekali pertikaian politik
dikalangan ummat Islam, puncaknya adalah ketika terbunuhnya Khalifah Ali bin
Abi Thalib oleh Ibnu Muljam. Setelah khalifah terbunuh, kaum muslimin diwilayah
Iraq mengangkat al-Hasan putra tertua Ali sebagai khalifah yang sah. Sementara
itu Mu’awiyah sebagi gubernur propinsi Suriah (Damaskus) juga menobatkan
dirinya sebagai Khalifah.
Namun karena Hasan ternyata lemah
sementara Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertambah kuat, maka Hasan bin Ali
menyerahkan pemerintahannya kepada mu’awiyyah bin abi sufyan.Mu'awiyah sebagai
pendiri dinasti Umayyah adalah putra Abu Sufyan, seorang pemuka Quraisy yang
menjadi musuh Nabi Muhammad saw. Mu'awiyah dan keluarga keturunan Bani Umayyah
memeluk Islam pada saat terjadi penaklukan kota Makkah. Nabi pernah
mengangkatnya sebagai sekretaris pribadi dan Nabi berkenan menikahi saudaranya
yang perempuan yang bernama Umi Habibah. Karier politik Mu'awiyah mulai
meningkat pada masa pemerintahan Umar Ibn Khattab. Setelah kematian Yazid Ibn
Abu Sufyan pada peperangan Yarmuk, Mu'awiyah diangkat menjadi kepala di sebuah
kota di Syria. Karena keberhasilan kepemimpinannya, tidak lama kemudian dia
diangkat menjadi gubernur Syria oleh khalifah Umar. Mu'awiyah selama menjabat
sebagai gubernur Syria, giat melancarkan perluasan wilayah kekuasaan Islam
sampai perbatasan wilayah kekuasaan Bizantine.Pada masa pemerintahan khalifah
Ali Ibn Abu Thalib, Mu'awiyah terlibat konflik dengan khalifah Ali untuk
mempertahankan kedudukannya sebagai gubernur Syria.Sejak saat itu Mu'awiyah
mulai berambisi untuk menjadi khalifah dengan mendirikan dinasti Umayyah.
Setelah menurunkan Hasan Ibn Ali, Mu'awiyah menjadi penguasa seluruh imperium
Islam,dan menaklukan Afrika Utara merupakan peristiwa penting dan bersejarah
selama masa kekuasaannya[1].
B. Sistem Pemerintahan Bani Umayyah
Untuk mengamankan tahtanya dan
memperluas batas wilayah Islam, Mu’awiyah sangat mengandalkan orang-orang
Suriah. Para sejarawan mengatakan bahwa orang-orang Suriah itu sangat
menjunjung tinggi kesetian terhadap khalifah tersebut.
Sebagai organisator militer,
Mu’awiyah adalah yang paling unggul diantara rekan-rekan se-zamannya. Ia
mencetak bahan mentah yang berupa pasukan Suriah menjadi satu kekuatan
militer Islam yang terorganisir dan berdisiplin tinggi, ia membangun sebuah
Negara yang stabil dan terorganisir. Ketika berkuasa, Mu’awiyah telah banyak
melakukan perubahan besar dan menonjol di dalam pemerintahan negeri waktu itu.
Mulai dari pembentukan angkatan darat yang kuat dan efisien, dia juga merupakan
khalifah pertama yang yang mendirikan suatu departemen pencatatan
(diwanulkhatam) yang fungsinya adalah sebagai pencatat semua peraturan
yang dikeluarkan oleh khalifah. Dia juga telah mendirikan (diwanulbarid) yang
memberi tahu pemerintah pusat tentang apa yang sedang terjadi di dalam
pemerintahan provinsi. Dengan cara ini, Mu’awiyah melaksanakan kekuasaan
pemerintahan pusat.
Pada 679 M, Mu’awiyah menunjuk
puteranya Yazid untuk menjadi penerusnya. Ketika itulah ia memperkenalkan
sistem pemerintahan turun temurun yang setelah itu diikuti oleh dinasti-dinasti
besar Islam, termasuk dinasti Abbasiyah.
Pada perkembangan berikutnya, setiap
khalifah mengikuti caranya, yaitu menobatkan salah seorang anak atau kerabat
sukunya yang dipandang sesuai untuk menjadi penerusnya. Pemindahan kekuasaan
Mu’awiyah mengakhiri bentuk demokrasi, kekhalifahan menjadi monarchi
heridetis (kerajaan turun temurun), yang di peroleh tidak dengan pemilihan
atau suara terbanyak. Sikap Mu’awiyah seperti ini di pengaruhi oleh keadaan
Syiria selama dia menjadi gubernur disana[2].
Sistem dan model pemerintahan yang
diterapkan Dinasti Umayyah ini mengundang kritik keras, terutama dari golongan
Khawarij dan Syiah. Sebagian besar khalifahnya sangat fanatik terhadap kearaban
dan bahasa Arab yang mereka gunakan. Mereka memandang rendah orang non-Arab dan
memposisikan mereka sebagai warga kelas dua. Kondisi tersebut menimbulkan
kebencian penduduk non-Muslim kepada Bani Umayyah. Di bidang yudikatif, para
qadi (hakim) ditunjuk oleh gubernur setempat yang diangkat oleh khalifah.
Ketika Abdul Malik naik tahta, perbaikan di bidang administrasi pemerintahan
dan pelayanan umum digalakkan. Ia memerintahkan penggunaan bahasa Arab sebagai
bahasa resmi di setiap kantor pemerintahan. Sebelum itu, bahasa Yunani
digunakan di Suriah, bahasa Persia di Persia, dan bahasa Qibti di Mesir.
Pada masa pemerintahan Abdul Malik,
para gubernur yang diangkatnya menjalankan fungsinya dengan baik. Gubernur
Mesir saat itu, Abdul Aziz bin Marwan, membuat alat pengukur Sungai Nil,
membangun jembatan, dan memperluas Masjid Jami Amr bin Ash. Sementara itu,
gubernur Irak, Hajjaj bin Yusuf, melakukan perbaikan sistem irigasi dengan
mengalirkan air Sungai Tigris dan Eufrat ke seluruh pelosok Irak sehingga
kesuburan tanah pertanian terjamin. Ia juga melarang keras perpindahan orang
desa ke kota. Kehidupan ekonomi juga dibangun dengan memperbaiki sistem
keuangan, alat timbangan, takaran, dan ukuran.
Pada masa Hisyam bin Abdul Malik,
seorang gubernur juga mempunyai wewenang penuh dalam hal administrasi politik
dan militer dalam provinsinya. Ketika al-Walid I naik tahta menggantikan Abdul
Malik, kesejahteraan rakyat mendapat perhatian besar. Ia mengumpulkan anak
yatim, memberi mereka jaminan hidup, dan menyediakan guru untuk mengajar
mereka. Bagi orang cacat, ia menyediakan pelayan khusus yang diberi gaji. Orang
buta diberikan penuntun dan bagi orang lumpuh disediakan perawat. Ia juga
mendirikan bangunan khusus untuk orang kusta agar mereka dirawat sesuai dengan
persyaratan kesehatan. Al-Walid I juga membangun jalan raya, terutama jalan ke
Hedzjaz. Di sepanjang jalan itu, digali sumur untuk menyediakan air bagi orang
yang melewati jalan. Untuk mengurus sumur-sumur itu, ia mengangkat pegawai.
Pada saat Umar bin Abdul Aziz memerintah, ia melakukan pembersihan di kalangan
keluarga Bani Umayyah. Tanah-tanah atau harta lain yang pernah diberikan kepada
orang tertentu dimasukkannya ke dalam baitul mal. Terhadap para gubernur dan
pejabat yang bertindak sewenang-wenang, ia tidak ragu-ragu mengambil tindakan
tegas berupa pemecatan. Kebijakannya di bidang fiskal mendorong orang non-Muslim
memeluk agama Islam. Pajak yang dipungut dari orang Nasrani dikurangi. Jizyah
atau pajak yang masih dipungut dari orang yang telah masuk Islam di antara
mereka dihentikan. Dengan demikian, mereka berbondong-bondong masuk Islam.
Selama masa pemerintahannya, Umar bin Abdul Aziz melakukan berbagai perbaikan
dan pembangunan sarana pelayanan umum, seperti perbaikan lahan pertanian,
penggalian sumur baru, pembangunan jalan, penyediaan tempat penginapan bagi
para musafir, memperbanyak masjid, dan sebagainya[3].
C. Kemajuan yang Dicapai Dimasa
Pemerintahan Umayyah
Kemajuan Dinasti Umayyah dilakukan
dengan ekspansi, sehingga menjadi negara islam yang besar dan luas. Dari
persatuan berbagai bangsa dibawah naungan islam lahirlah benih-benih kebudayaan
dan peradaban islam yang baru. Meskipun demikian, Bani Umayyah lebih banyak
memusatkan perhatian pada kebudayaan arab[4] .
pada zaman pemerintahan Abdul Malik,
Salih Ibn Abdur Rahman, sekretaris al-Hajjaj, mencoba menjadikan bahasa arab
sebagai bahasa resmi di seluruh negeri. Meskipun, bahasa-bahasa asal tidak
sepenuhnya dihilangkan. Orang-orang non Arab telah banyak memeluk Islam dan
mulai pandai menggunakan bahasa arab. Perhatian bahasa arab mulai diberikan
untuk menyempurnakan pengetahuan mereka tentang bahasa arab.Hal inilah yang
mendorong lahirnya seorang ahli bahasa seperti Sibawaih. Sejalan dengan itu,
perhatian pada syair arab jahiliyah pun muncul kembali sehingga bidang sastra
Arab mengalami kemajuan.
Bidang pembangunan juga di perhatian
para khalifah Bani Umayyah. Masjid-masjid di semenanjung Arabia dibangun,
katedral st. John di Damaskus diubah menjadi masjid. Dan kadetral di Hims
digunakan sekaligus sebagai masjid dan gereja. Selain itu, di masa ini
gerakan-gerakan ilmiyah telah berkembang pula, seperti dalam bidang keagamaan,
sejarah, dan filsafat. Pusat kegiatan ilmiyah ini adalah Kuffah dan Basrah di
Iraq[5] .
Ekspansi ke barat dilakukan secara
besar-besaran pada masa pemerintahan Al-Walid ibn Abdul Malik. Pada masa ini
dikenal dengan masa ketentraman, kemakmuran, dan ketertiban. Pada masa
pemerintahannya tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju
wilayah barat daya benua Eropa yaitu pada tahun 771 M. Ekspedisi tersebut
dipimpin oleh Tariq bin Ziyad dengan menyeberangi selat yang memisahkan antara
Maroko dan benua Eropa. Mereka kemudian mendarat di suatu tempat yang dinamakan
dengan Gibraltar (jabal tariq).Tariq berhasil mengalahkan tentara Spanyol dan
dapat menguasai Kordova, Seville, Elvira, dan Toledo. Pasukan Islam dapat
memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat
setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa. Dinasti Umayyah
disamping telah berhasil dalam ekspansi teritorialnya sebagaimana disebutkan
sebelumnya, dalam berbagai bidang, diantaranya adalah:
Dalam bidang administrasi
pemerintahan meliputi:
1. Pemisahan kekuasaan. Terjadi
dikotomi antara kekuasaan agama dan kekuasaan politik.
2. Pembagian wilayah. Wilayah kekuasaan
terbagi menjadi beberapa provinsi, yaitu: Syiria dan Palestina, Kuffah dan
Irak, Basrah dan Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Najd dan Yamamah,
Arenia, Hijaz, Karman dan India, Egypt (Mesir), Ifriqiyah (Afrika Utara), Yaman
dan Arab Selatan,serta Andalusia.
3. Bidang administrasi pemerintahan.
Organisasi tata usaha negara terpecah menjadi bentuk dewan. Departemen pajak
dinamakan dengan dewan Al-Kharaj, departemen pos dinamakan dengan dewan Rasail,
departemen yang menangani berbagi kepentingan umum dinamakan dengan dewan
Musghilat, departemen dokumen negara dinamakan dengan dewan Al- Khatim.
4. Organisasi keuangan. Terpusat pada
baitul maal yang asetnya diperoleh dari pajak tanah, perorangan bagi non
muslim. Percetakan uang dilakukan pada khalifah Abdul Malik bin Marwan.
5. Bidang arsitektur. Terlihat pada
kubah Sakhra di Baitul Maqdis, yaitu kubah batu yang didirikan pada masa
khalifah Abdul Malik Ibn Marwan pada tahun 691 M.
6. Bidang pendidikan. Pemerintah
memberikan dorongan kuat dalam memajukan pendidikan dengan menyediakan sarana
dan prasarana. Hal tersebut dilakukan agar para ilmuan, ulama’ dan seniman mau
melakukan pengembangan dalam ilmu yang didalaminya serta dapat melakukan
kadernisasi terhadap generasi setelahnya.
Pada masa ini telah dilakukan
penyempurnaan penulisan al-Quran dengan memberikan baris dan titik pada
huruf-hurufnya. Hal tersebut dilakuakn pada masa pemerintahan Abd Malik Ibn
Marwan yang menjadi khalifah antara tahun 685-705M. Pada masa Dinasti ini juga
telah dilakukan pembukuan hadist tepatnya pada waktu pemerintahan khalifah Umar
Ibn Abd Al-Aziz (99-10 H), mulai saat itu ilmu hadist berkembang dengan sangat
pesat. Khalifah-khalifah dinasti Umayyah juga menaruh perhatian pada
perkembangan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu agama yang mencakup al-Qur’an,
hadist,fikih,sejarah dan geografi. Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu
yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat.Ubaid Ibn Syariyah
Al Jurhumi telah berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah.Ilmu pengetahuan
bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa seperti nahwu, sharaf,
dan lain-lain. Bidang filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal
dari bangsa asing, seperti ilmu mantik, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu
yang berhubungan dengan itu, serta ilmu kedokteran. Khalifah Al-Walid
mendirikan sekolah kedokteran, ia melarang para penderita kusta meminta-minta
di jalan bahkan khalifah menyediakan dana khusus bagi para penderita kusta
tersebut, pada masa ini sudah ada jaminan sosial bagi anak-anak yatim dan anak
terlantar.
D. Faktor-Faktor Penyebab Mundurnya
Dinasti Umayyah
Kebesaran yang dibangun oleh Daulah
Bani Umayyah ternyata tidak dapat menahan kemunduran dinasti yang berkuasa
hampir satu abad ini, hal tersebut diakibatkan oleh beberapa factor yang
kemudian mengantarkan pada titik kehancuran. Diantara fakto-faktor tersebut
adalah:
1. Terjadinya pertentangan keras antara
kelompok suku Arab Utara (Irak) yang disebut Mudariyah dan suku Arab Selatan
(Suriah) Himyariyah, pertentangan antara kedua kelompok tersebut mencapai
puncaknya pada masa Dinasti Umayyah karena para khalifah cenderung berpihak
pada satu etnis kelompok.
2. Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam
non Arab. Mereka yang merupakan pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa yang
dikalahkan mendapat sebutan “Mawali”, suatu status yang menggambarakan
inferioritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapat fasilitas
dari penguasa Umayyah. Mereka bersama-sama orang Arab mengalami beratnya
peperangan dan bahkan diatas rata-rata orang Arab, tetapi harapan mereka untuk
mendapatkan tunjangan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan
tahunan yang diberikan kepada Mawali ini jumlahnya jauh lebih kecil dibanding
tunjangan yang dibayarkan kepada orang Arab.
3. Konfllik-konflik politik yang
melatar belakangi terbentuknya Daulah Umayyah. Kaum syi`ah dan khawarij terus
berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam
keutuhan kekuasaan Umayyah. Disamping menguatnya kaum Abbasiyah pada masa
akhir-akhir kekuasaan Bani Umayyah yang semula tidak berambisi untuk merebut
kekuasaan, bahkan dapat menggeser kedudukan Bani Umayyah dalam memimpin
umat.
Dari penjelasan di atas dapat saya
simpulkan bahwa faktor-faktor keruntuhan dinasti Bani Umayyah secara umum ada
dua yaitu:
a. Faktor Internal
Beberapa alasan mendasar yang sangat
berpengaruh terhadap keruntuhan Dinasti Umayah adalah karena kekuasaan wilayah
yang sangat luas tidak dibaringi dengan komunikasi yang baik, sehingga
menyebabkan suatu kejadian yang mengancam keamanan tidak segera diketahui oleh
pusat.
Selanjutnya mengenai lemahnya para khalifah yang memimpin.
Diantara khalifah-khalifah yang ada, hanya beberapa saja khalifah yang cakap,
kuat, dan pandai dalam mengendalikan stabilitas negara. Selain itu, di antara
mereka pun hanya bisa mengurung diri di istana dengan hidup bersama
gundik-gundik, minum-minuman keras, dan sebagainya. Situasi semacam ini pun
mengakibatkan munculnya konflik antar golongan, para wazir dan panglima yang
sudah berani korup dan mengendalikan negara.
b. Faktor Eksternal
Intervensi luar yang berpotensi
meruntuhkan kekuasaaan Dinasti Umayah berawal pada saat Umar II berkuasa dengan
kebijakan yang lunak, sehingga baik Khawarij maupun Syiah tak ada yang
memusuhinya. Namun, segala kelonggaran kebijakan-kebijakan tersebut
mendatangkan konsekuensi yang fatal terhadap keamanan pemerintahannya. Semasa pemerintahan
Umar II ini, gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh Bani Abbas mampu berjalan
lancar dengan melakukan berbagai konsolidasi dengan Khawarij dan Syiah yang
tidak pernah mengakui keberadaan Dinasti Umayah dari awal. Setelah Umar II
wafat, barulah gerakan ini melancarkan permusuhan dengan Dinasti Umayah.
Gerakan yang dilancarkan untuk mendirikan pemerintahan Bani Abbasyiah semakin
kuat. Pada tahun 446 M mereka memproklamasikan berdirinya pemerintah Abbasyiah,
namun Marwan menangkap pemimpinnya yang bernama Ibrahim lalu dibunuh. Setelah
dibunuh, pemimpin gerakan diambil alih oleh seorang saudaranya bernama Abul
Abbas as-Saffah yang berangkat bersama-sama dengan keluarganya menuju Kuffah.
Kedudukan kerajaan Abbasyiah tidak akan tegak berdiri sebelum khalifah-khalifah
Umayah tersebut dijatuhkan terlebih dahulu[6].
As-Saffah mengirim suatu angkatan tentara yang terdiri dari laskar pilihan
untuk menentang Marwan, dan mengangkat pamannya Abdullah bin Ali untuk memimpin
tentara tersebut. Antara pasukan Abdullah bin Ali dan Marwan pun bertempur
dengan begitu sengitnya di lembah Sungai Dzab, yang sampai akhirnya pasukan
Marwan pun kalah pada pertempuran itu.
Sepeninggal Marwan, maka benteng
terakhir Dinasti Umayah yang diburu Abbasyiah pun tertuju kepada Yazid bin Umar
yang berkududukan di Wasit. Namun, pada saat itu Yazid mengambil sikap damai
setelah mendengar berita kematian Marwan. Di tengah pengambilan sikap damai itu
lantas Yazid ditawari jaminan keselamatan oleh Abu Ja’far al-Mansur yang
akhirnya Yazid pun menerima baik tawaran tersebut dan disahkan oleh As-Saffah
sebagai jaminannya. Namun, ketika Yazid dan pengikut-pengikutnya telah
meletakkan senjata, Abu Muslim al-Khurasani menuliskan sesuatu kepada As-Saffah
yang menyebabkan Khalifah Bani Abbasyiah itu membunuh Yazid beserta para
pengikutnya.
No comments:
Post a Comment